Al-Hukama' http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma <p><strong>Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law </strong>diterbitkan oleh Prodi Hukum Keluarga Islam (ahwal As-Syakhsiyyah) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Jurnal ini memuat tentang kajian yang berkaitan dengan seluruh aspek Hukum Keluarga Islam di Indonesia. Jurnal ini terbit dua kali setahun: bulan Juni dan Desember. p-ISSN:&nbsp;2089-7480 , e-ISSN:&nbsp;2548-8147</p> <p>&nbsp;<strong>Alamat Redaksi</strong>: Jl. Jend. Ahmad Yani 117 Surabaya 60237.&nbsp;Telp. 031-8417418, Fax. 031-8418457. E-mail: al_hukama@uinsby.ac.id</p> en-US itaisme@gmail.com (Ita Musarrofa) ulyaelzakiya@gmail.com (Zakiyatul Ulya) Sat, 22 Jun 2019 00:00:00 +0000 OJS 3.1.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 ANALISIS KEDUDUKAN ADAT DALAM HUKUM WARIS ISLAM DAN HINDU BESERTA IMPLIKASINYA http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/765 <p><em>T</em><em>radition is recognized by Islamic law as a legal basis with several conditions. the use of tradition in the distribution of inheritance is not justified because it is contrary to the provisions of Islamic inheritance which are qat‘iyah al-dilalah and qat‘iyah al-wurud. The distribution based on tradition that can be done with the agreement of the heirs, as in article 183 of KHI</em><em>.</em> <em>T</em><em>radition in Hindu is recognized as a source of law with conditions that are appropriate with atmavan. The position of tradition in inheritance law has been legalized its enforcement in an area based on Sloka 40 parts 60 chapter 7 Artastastra book</em><em>. B</em><em>oth Islamic and Hindu laws create tradition as the basis for law enforcement. The use of tradition in the distribution of inheritance is not justified by Islam because of it contradicts with Syara’ argument. However, the distribution based on tradition can be done with the agreement of the heirs. In contrast, Hindu law legalizes customary enforcement in an area as inheritance law. </em><em>Both Islamic and Hindu communities entitled to implement their religious or customary inheritance law in the distribution of inheritance, h</em><em>owever</em><em> in Islam is required</em><em> the agreement of the heirs</em></p> Zakiyatul Ulya ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/765 Sat, 22 Jun 2019 16:09:52 +0000 EKSISTENSI ANAK PEREMPUAN DALAM HUKUM KEWARISAN SYIAH http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/800 <p>Artikel ini adalah hasil penelitian pustaka yang membahas keadilan anak perempuan di dalam hukum kewarisan Syiah. Permasalahan yang menjadi pokok bahasan adalah posisi ahli waris wanita—terutama anak perempuan—yang di dalam hukum kewarisan Sunni tidak diperlakukan setara dengan ahli waris lainnya, baik yang sederajat atau tidak. Sebab di dalam hukum kewarisan Sunni, superioritas laki-laki sangat diagungkan. Antara anak laki-laki dan anak perempuan—walaupun sederajat di mata pewaris—tetap memiliki kekuatan yang tidak seimbang di dalam menghijab ahli waris yang lain. Sedangkan di dalam hukum kewarisan Syiah, anak perempuan diposisikan setara dengan anak laki-laki. Mereka memiliki kekuatan menghijab yang sama kuatnya. Selain itu, Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi hukum Islam (KHI) juga menerapkan prinsip kesetaraan antara anak perempuan dengan anak laki-laki dalam hal mengjijab ahli waris lainnya. Kendati demikian, KHI tidak mengadopsi sistem Kelas secara langsung. Namun, secara eksplisit tersebut di dalam pasal 181 dan pasal 182 bahwa eksistensi anak perempuan menyebabkan saudara kandung, saudara seibu, atau saudara seayah tidak menerima bagian harta waris.</p> Faby Toriqir Rama ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/800 Wed, 04 Sep 2019 03:22:28 +0000 KEKUATAN HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA WARIS MELALUI MEDIATOR TOKOH MASYARAKAT DI DESA WONOSALAM KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN DEMAK http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/841 <p><em>This article is a field research to answer the role of community leaders as mediators in the settlement of inheritance disputes in Wonosalam, Demak and how the legal power of resolving inheritance disputes through mediator community leaders in Wonosalam, Demak. Research data are collected through interviews and observations, then are analyzed with descriptive analytical techniques with inductive thought pattern. Wonosalam community leaders have an important role in the settlement of inheritance disputes, namely as a mediator, including: opening and leading the mediation process, explaining and determining the heirs' parts, providing the best advice and solutions, deciding and determining what has been agreed by the parties to the dispute, preventing the emergence of even bigger disputes, and still maintaining harmony and harmony in social life. The results of the settlement of inheritance disputes through mediators of community leaders in Wonosalam do not have an enforceable legal force, because they are not confirmed by making a peace certificate or a peace agreement letter, which is contained in: article 27 of the Supreme Court Regulation No. 1 of 2016 concerning Mediation Procedures and article 1851 Civil Code. Nevertheless, the determination of community leaders as mediators in the settlement of inheritance disputes is obeyed and implemented by the people of Wonosalam.</em></p> Ahmad Falih Mahruz ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/841 Wed, 04 Sep 2019 00:00:00 +0000 HUKUM MENCEGAH KEHAMILAN PERSPEKTIF IMAM GHAZALI DAN SYEKH ABDULLAH BIN BAAZ http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/805 <p>Artikel ini membahas tentang hukum mencegah kehamilan perspektif Imam Ghazali dan Syekh Abdullah bin Baaz. Mencegah kehamilan menurut hukum Islam adalah boleh. Menunda kehamilan berarti mencegah kehamilan sementara, untuk memberikan jarak pada kelahiran yang sebelumnya. Sedangkan membatasi kehamilan mempunyai pengertian mencegah kehamilan untuk selamanya seteleh mempunyai jumlah anak dalam jumlah tertentu. Pembatasan kehamilan seperti ini, tidak diperbolehkan. Syekh Abdullah bin Baaz berpendapat, bahwa mencegah kehamilan, baik dengan cara <em>‘azl,</em> pil, kondom, dan lainnya pada dasarnya adalah haram karena bertentangan dengan <em>maqa</em><em>sid shari’ah,</em> yakni membatasi adanya keturunan, tetapi kemudian ada pengecualian yang menjadikan hukumnya boleh, yaitu karena adanya suatu dharurat. Ini berbeda dengan pemikiran Imam Ghazali yang menegaskan, bahwa hukum Keluarga Berencana yang disandarkan kepada hukum <em>‘azl</em> adalah mubah/boleh karena tidak adanya nas yang menunjukkan keharaman.</p> Rifdatus Sholihah . ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/805 Wed, 04 Sep 2019 00:00:00 +0000 IMPLEMENTASI PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 36 TAHUN 2015 TENTANG PENCEGAHAN PERKAWINAN PADA USIA ANAK DALAM PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/833 <p><sup></sup></p> <p><em>Regent Regulations (Perbup) of Gunungkidul Number 36 Year 2015 Concerning Prevention of Marriage at the Age of Child is a special regulation regarding the efforts, programs, actions, activities used by the government agencies of Gunungkidul Regency in order to prevent and reduce the number of marriages at the age of child. Wonosari Religious Court statistics show a decrease in the number of submissions for marriage dispensations from 2015 to 2017 after the enactment of this regulation. In 2015 there were 109 cases of marriage dispensation, in 2016 there were 85 cases of marriage dispensation, in 2017 there were 65 cases of marriage dispensation. In its implementation, this regulation has benefits because it forms the basis of human life (maslahah dharuriyyah). This regulation has also answered the problems that humans need to eliminate the difficulties they face (maslahah hajiyyah). In addition, this regulation has preserved the wisdom and goodness of manners and social and cultural beauty (maslahah tahsiniyyah). Seen from its implementation, Perbup Gunungkidul Number 36 of 2015 concerning Prevention of Marriage at the Age of Child is in accordance with the principles of problem solving.</em></p> Agung Ilham Affaruddin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/833 Wed, 04 Sep 2019 05:15:13 +0000 ANALISIS YURIDIS TERHADAP ALASAN PENEMUAN NOVUM PALSU SEBAGAI DASAR PENINJAUAN KEMBALI KEDUA DALAM PERKARA PERDATA http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/834 <p><em>This article discusses the juridical analysis of the reasons for the discovery of a fake novum as the basis of a second review in a civil case. This study aims to answer the question of how are the reasons for the discovery of a fake novum as the basis for a second review in a civil case? and how are the legal analysis of a reason for the discovery of a fake novum as a the basis for a second review in a civil case. The reason for receiving the second review in the civil case is based on the discovery of a novum which was declared false by the Criminal Judge of the Bandung District Court that has inkracht, is a reason that falls within the criteria of Article 67 letter (a) which reads: “If the decision is based on a lie or a ruse the opposing party that is known after the case has been decided or based on evidence which is later declared to be false by the criminal judge”, is not classified as a reason for finding novum or the reason there are two conflicting judicial decisions. Secondly, the second review in the pedata and criminal case is only limited to the reason that there are two Judicial Decisions that are interrelated with one another (SEMA Number 10 Year 2009), so in addition to these reasons, the Supreme Court has never issued a policy related to the second mechanism Judicial Review, including on the grounds that a novum has been legally and convincingly found false by a public court.</em></p> Ulil Manaqib ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/834 Wed, 04 Sep 2019 05:21:24 +0000 EKPLOITASI TUBUH AKTIVIS PEREMPUAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KERJA PENGURUS CABANG PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA KABUPATEN MALANG http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/803 <p>Dalam pelaksanaan program kerja Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Malang, demi terlaksanya acara yang bagus dan menarik, para pemilik kekuasaan memanfaatkan aktivis perempuan untuk menjadi pekerja. Aktivis perempuan harus melaksanakan tugas yang tidak sesuai dengan deskripsi kerjanya, mendapat paksaan dari teman sesama aktivis untuk melaksanakan tugas yang dia sendiri belum berpengalaman dan baru pertama mencobanya, dan yang paling mencolok adalah ketika sesama aktivis perempuan tidak senang jika ada program pengembangan keperempuanan. Praktik eksploitasi terhadap aktivis perempuan tersebut, dilihat dalam artikel ini, menggunakan teori disiplin tubuh Michel Foucault. Disiplin tubuh bekerja sebagai normalisasi kelakuan yang didesain dengan memanfaatkan kemampuan produktif dan reproduktif dari tubuh manusia. Praktik kekuasaaan melalui pendisiplinan tubuh, menciptakan situasi dimana tubuh individu dapat menginternalisasikan penundukan dan menjadikannya seolah sebagai suatu keadaan yang normal. Praktik seperti inilah yang disebut Foucault sebagai normalisasi kekuasaan terhadap tubuh individu. Individu tidak akan pernah merasa sedang dimanfaatkan dan ditundukkan karena mereka sudah menganggap hal itu sesuai batas kewajaran. Bisa dikatakan juga bahwa ini adalah eksploitasi yang terselubung.</p> Ahmad Zainuri . ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/803 Wed, 04 Sep 2019 05:26:58 +0000 PARENTING BAGI ORANG TUA MUDA DI PUSAT PEMBELAJARAN KELUARGA SURABAYA PERSPEKTIF ABDULLAH NASHIH `ULWAN http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/804 <p>Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bahwa pendidikan <em>parenting</em> yang didapat oleh pemuda sebelum menikah atau di awal pernikahan dapat menyadarkan orang tua akan pentingnya pengetahuan ini terhadap tiap langkah perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara dan dokumentasi dengan peserta dan <em>stake holder </em>di PUSPAGA Surabaya. Subyek penelitiannya adalah orang tua muda yang mengikuti <em>training parenting </em>di Pusat pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Surabaya. Dalam hal ini peneliti memakai pendidikan anak menurut Dr. Abdulloh Nashih `Ulwa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi, dan hasinya adalah bahwa pengetahuan tentang pola pengasuhan anak atau <em>parenting </em>di Pusat Pembelajaran Keluarga di Surabaya yang dimiliki orang tua muda sebelum atau sesudah menikah merupakan bagian dengan <em>parenting </em>perspektif islam menurut Dr. Abdullah Nashih `Ulwan yaitu pendidikan keimanan, moral, fisik, psikologis, akal, fisik dan sosial.</p> `Azmatul Husniyah . ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/804 Wed, 04 Sep 2019 05:37:16 +0000 PERKAWINAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF MAJELIS ULAMA INDONESIA DAN MUHAMMADIYAH http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/806 <p>Artikel ini membahas tentang hukum perkawinan beda agama menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Muhammadiyah. Menurut fatwa MUI, perkawinan beda agama adalah haram dengan dalil surat al-Baqarah ayat 221. Sedangkan Muhammadiyah beranggapan peerkawinan beda agama adalah boleh dengan dasar surat al-Maidah ayat 5. MUI mengharamkan perkawinan beda agama karena hal tersebut bisa menimbulkan konflik antar sesama umat Islam dan mengakibatkan keresahan di masyarakat. Muhammadiyah membolehkan perkawinan beda agama karena dalam sejarah Islam diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw pernah menikah dengan seorang wanita Nasrani yang berasal dari Mesir, yaitu Maria al-Qibthiyyah. Beberapa sahabat Nabi juga menikah dengan wanita-wanita <em>ahlu al-Kitab</em>. MUI menyamakan <em>ahlu al-Kitab</em> (Nashrani dan Yahudi) termasuk kategori <em>musyrik</em>, sedangkan Muhammadiyah beranggapan bahwasanya wanita a<em>hlu al-Kitab</em> itu tidak termasuk <em>musyrikat</em> sebagaimana yang tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 221. Hal tersebut disebabkan menurut Muhammadiyah banyak ayat yang menbedakan antara <em>ahlu al-Kitab</em> dengan <em>musyrik</em> dengan mempertimbangkan analisis kebahasaan dalam surat al-Baqarah ayat 105 dan al-Bayyinah ayat 1.</p> Miftah Bil Ibad ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/806 Wed, 04 Sep 2019 05:46:01 +0000 PEMBERIAN HAK HADANAH KEPADA IBU TIRI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA SIDOARJO NOMOR: 0763/PDT.G/2018/PA.SDA PERSPEKTIF MASLAHAH MURSALAH http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/840 <p><em>This article is a library research on the granting of rights to stepmothers in the decision of the Sidoarjo Religious Court Number: 0763/Pdt.G/2018/PA.Sda. The research data are collected using documentation techniques and are analysed using descriptive analysis techniques and using a deductive mindset that is by outlining the decision of the Sidoarjo Religious Court which is then reviewed from the perspective of maslahah mursalah. The panel of judges in determining the right of gift to stepmothers in the Sidoarjo Religious Court's decision, based on article 41 letter (a) of Law Number 1 of 1974 jo. article 105 and article 156 letter (a) Compilation of Islamic Law and the proposition in the book Bajuri juz II. In addition, a willingness from the Defendant who is the biological father of the child to give the right of gift to the Plaintiff's Reconstruction is a point that is included as consideration by the panel of judges. In Islamic law which is examined from the theory of maslahah mursalah, the judge's consideration to establish the right of hadanah to the stepmother in the Sidoarjo Religious Court's ruling is in accordance with the purpose of the hadanah namely to prioritize the interests and benefit of the child so that later he or she can grow into a good person under the care of an appropriate person, even though the child is not a biological child of the Reconvention Plaintiff, the Reconvention Plaintiff is in fact more feasible and competent to have the right of hadanah.</em></p> Wafda Firyal ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/840 Wed, 04 Sep 2019 05:51:15 +0000