Pemanfaatan Tanah Sebagai Jaminan Praktik Qardh Dalam Tinjauan Ekonomi Syari’ah (Studi Di Desa Somalang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura)

Main Article Content

Abdus Sakur

Abstract

Some Madurese people realize that the tradition of credit guaranteed by land use has several negative impacts. Apart from being contrary to al-Qur’an and Hadith, this tradition is also detrimental to the community because it results the guarantee provider is no longer being able to take advantage of it. The people of Somalang, Pakong, Pamekasan, Madura are with the tradition of credit guaranteed by land use until now. Actually, there are a number of people who do not agree with this tradition. However, their arguments are often lacking in strength. Considering that this tradition has been running for decades, so it cannot be separated from the live of the Madurese in general and the Somalang people in particular. This is a descriptive qualitative research and using a case study approach. Based on the result of this study, it can be concluded that the tradition of credit guaranteed by land use in Somalang is less profitable for the second party as the recipient of the guarantee. So that, in addition to injure the actual system of credit, this tradition also contradicts the shariah concept of tradition, credit, and the taking of benefit from the land as a guarantee.


 


Abstrak: Sebagian masyarakat Madura menyadari bahwa tradisi hutang piutang dengan jaminan pemanfaatan tanah menimbulkan beberapa dampak negatif. Selain bertolak belakang dengan nas, tradisi ini juga merugikan masyarakat karena mengakibatkan pihak yang memberi jaminan tidak lagi dapat mengambil manfaatnya. Masyarakat Desa Somalang Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura sangat kental dengan tradisi hutang piutang dengan jaminan pemanfaatan tanah. Bahkan, sampai saat ini banyak orang yang menjalankan tradisi tersebut. Sebenarnya ada sejumlah pihak yang tidak setuju dengan tradisi ini. Namun, argumentasi dan pendirian mereka seringkali kurang kuat. Mengingat, tradisi ini telah berjalan selama puluhan tahun sehingga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Madura pada umumnya dan masyarakat Somalang pada khususnya. Adapun jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan pendekatan case study (studi kasus). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tradisi hutang piutang dengan jaminan pemanfaatan tanah di Desa Somalang kurang menguntungkan bagi pihak pelaku kedua sebagai penerima jaminan; kemudian tradisi ini mencederai sistem hutang piutang yang sebenarnya; serta tradisi ini bertolak belakang dengan konsep syariah tentang tradisi, hutang piutang, dan pengambilan manfaat atas jaminan tanah.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Articles

References

Dahlan, Abd. Rahman. Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Amzah, 2010.

Effendi, Satria. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2017.

Haroen, Nasrun. Ushul Fiqh 1. Ciputat: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997.

Idri. Ekonomi dalam Persepektif Hadis Nabi. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2015.

Khallaf, Abdul Wahhab. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1994.

Muslich, Ahmad Wardi. Fiqh Muamalat. Jakarta: Amzah, 2010.

Muslich, Ahmad Wardi. Fiqh Muamalat. Jakarta: PT. Amzah, 2010.

Nawawi, Ismail. Ekonomi Kelembagaan Syariah: Dalam Pusaran Perekonomian Global. Surabaya: CV. Putra Media Nusantara, 2009.

Ramdansyah, Abdul Aziz. “Esensi Utang dalam Konsep Ekonomi Islam”. Jurnal Bisnis, Vol. 4, No. 1, Juni 2016.

Rusli, Nasrun. Konsep Ijitihd Al-Syaukani; Relevansinya bagi Pembaharuan Hukum di Indonesia. Jakarta: Logos, 1999.

Ubaidillah, M. Hasan, “Membedah Kearifan Sistem Ekonomi Islam (Konstruksi Sistem Ekonomi yang Adil dan Beradab)”, Maliyah: Jurnal Hukum Bisnis Islam, Vol. 02, No. 02, Desember 2012.

Fathorrahman, Wawancara, Desa Somalang, 1 Mei 2018.

Hoda’, Wawancara, Desa Somalang, 6 Mei 2018.

Misnawan, Wawancara, Desa Somalang, 5 Mei 2018.

Mojo, Wawancara, Desa Somalang, 11 Mei 2018.

Muhammad Bahar, Wawancara, Desa Tamberu Laok, 3 Mei 2018.

Muhammad Subki, Wawancara, Desa Somalang, 1 Mei 2018.

Munahe, Wawancara, Desa Somalang, 5 Mei 2018.

Suraji, Wawancara, Desa Somalang, 3 Mei 2018.

Muhammad Habibullah, Wawancara, Desa Bekiong, 10 Mei 2018.