MAKNA PERKAWINAN DALAM BINGKAI MAQASID AL-SYARI’AH

  • Syaiful Bahri
Keywords: Perkawinan, Maqashid al-Syari’ah, UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Abstract

Abstract: In human life, the position of marriage is very fundamental. The meaning of marriage, in history, can differ from one era to another era. This papper attemps to examine the meaning of marriage in UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. In discussing this issue, the Author used Maqashid al-Syari’ah theory as the main frame to review the meaning of marriage contained on the UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. By doin a study of literature, this study concluded that the meaning of marriage contained on the UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan is in conformity with the principle of Maqashid al-Syari’ah that exists in Islamic Law, to realize the kindness and refused ugliness. In addition, the definition of marriage as defined in the Act is closer with the definition formulated in Qur’an.

Abstrak: Perkawinan menempati posisi yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Makna perkawinan, dalam lintasan sejarah, dapat berbeda antara satu zaman dengan zaman lainnya. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji makna perkawinan yang terkadung dalam Pasal 1 UU No. 1 Tahun 1974  Tentang perkawinan. Dalam membahas masalah ini, penulis menggunakan teori Maqashid al-Syari’ah sebagai bingkai utama dalam melihat makna perkawinan yang termaktub dalam UU No. 1 Tahun 1974 tersebut. Dengan melakukan studi kepustakaan, kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa makna perkawinan yang termaktub dalam UU. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan sudah sesuai dengan prinsip Maqashid al-Syari’ah yang ada dalam hukum Islam, yakni untuk mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Selain itu, definisi perkawinan yang dirumuskan dalam Undang-undang lebih mendekati definisi perkawinan yang dirumuskan Al-Qur’an.

Downloads

Download data is not yet available.
How to Cite
BahriS. (1). MAKNA PERKAWINAN DALAM BINGKAI MAQASID AL-SYARI’AH. Al-Hukama’ : The Indonesian Journal of Islamic Family Law, 5(2), 487-503. Retrieved from http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/alhukuma/article/view/305